Laman

Selasa, 28 Desember 2010

PANDAWA UKMKHD UNAIR JELAJAHI PURA DI MALANG (SESI 1)

           UKMKHD UNAIR memiliki program kerja  TIRTA YATRA yaitu suatu kegiatan mengunjungi pura yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dan mempererat rasa kekeluargaan antar anggota. Sebelum dilaksanakannya kegiatan tirta yatra tentu saja  perlunya dilaksanakan survey lokasi guna meninjau keperluan lebih lanjut.
Berikut tim mapping kita yaitu Pandawa UKMKHD  Unair yang terdiri dari : Gusde Maha   ( Bli Charly) selaku PJ tirta yatra, Putu Pramana (pupram) selaku wakil PJ, Gung Tra ( jongos) ketua UKM kita terjongos, Ongky selaku pelengkap alias (pengenep),  Kadek BP ( kadek bedude) selaku tukang makan dan pembuat banyol. Berikut laporan perjalanan kami tolong di baca ya, agar penulis tidak rugi menulis.
Tanggal 19 November 2010
            Perjalanan berawal dari asrama Tirta Gangga pukul 10.00 malam waktu setempat dengan menunggangi bebek jepang kita meluncur menuju Malang. Dalam perjalanan kita menerapkan konsep hati-hati di jalan agar selamat sampai tujuan, dengan kecepatan rata- rata santai yaitu 80-90 KM perjam. Selama satu setengah jam perjalan tidak terasa sudah tiba di Asrama Gunung Agung, asrama ini merupakan tempat tim menginap selama dua malam. Saat tiba tim disambut gonggongan anjing maklum karna ada Gung Tra, dan selanjutnya kita disambut oleh penghuni asrama dan terus dipersilakan memasuki salah satu kamar yang dihuni oleh temannya Gungtra yang bernama Gung Pram.. Singkat cerita kita melakukan breifing untuk merencanakan kegiatan yang kita lakukan esok , kemudian tidur.
Tanggal 18 November 2010 
Menurut rencana, kegiatan survey dilaksanakan  pukul 07.00 WIB namun tidak terealisasikan mengingat suasana dingin Malang  yang berpengaruh terhadap sifat klasik manusia pada umumnya, malas. Alhasil tepat pukul 09.00 kita berangkat sebelumnya tim sempat singgah di sebuah warung makan sebut saja bunga. 
Pura pertama, Pura BURING
            Sampai di lokasi pura kiara-kira ditempuh selama 30 menit dari Asga sebelumnya tim harus melintasi jalan kecil, tanjakan, turunan, sedikit licin, kelak-kelok, “ceglongan” (baca jalan rusak), dan lain-lain.
    (berpose di depan Pura Buring ,
meh keto san senyum ne pupram nokss)
“Mimiiih, kene gati jalan ne o ? ngidang bis kel mecelep ne, yen kene undukne?” keluh kadek beduda saat melintasi belokan tajam. Pura Buring sangat asri di adu pohon beringin yang luar biasa mempesona, tim langsung melaksakan tugas, ada yang capture gambar, ada yang berbincang dengan pemangku, ada juga yang mencatat kendala yang mungkin timbul 
Pura Kedua, Pura BALEKAMBANG
    (Balekambang kopianne Tanah Lot )
    Perjalanan menuju Pura ke dua ini, tim banyak mendapatkan pengalaman lucu mulai dari salah jalan, global warming yang kita rasakan di bagian pantat karena menempuh perjalanan cukup panjang, menemukan berbagai macam plang tulisan unik, seperti “Jalan Rusak Sejauh 2 Kilo Meter”, “Oper gigi  satu karena tikungan tajam setajam silet” “Balekambang 33.5 km” . Jalan yang kita lalui penuh liku kecil, lubang di sana sini tapi dibawa enjoy sajalah.. 
Ketika sampai di TKP kita menemukan sistem parkir yang penuh dengan birokrasi. Setelah memarkir kendaraan kita menuju pura dengan melewati jembatan, sebelum melakukan persembahyangan kita rehat sejenak sembari memandangi terjangan ombak yang begitu dasyat dan kencangnya angin samudra hindia. Sejauh mata memandang pura bale kambang ini sepertinya foto copyan pura Tanah Lot !!. Kita datang ke sana sembah puyung saja tidak membawa sarana sembahyang sedikit pun, beruntung ada umat yang baik hati meyumbangkan dengan ikhlas dupa mereka,  after that tim bertandang ke pasraman jero mangku Juarno untuk konsultasi masalah Tirtayatra, setelah berbincang-bincang dengan beliau tim diminta untuk datang ke rumah ketua PHDI kabupaten Malang untuk membicarakan masalah restribusi agar digratiskan, karena sebelumnya kita masuk ke bale kambang sejumlah lima orang dikenai biaya sebesar empat puluh tujuh ribu apalagi puluhan orang berapa ya? tim bergerak menuju warung makan sekitar pura kita juga membeli O2, “hayo O2 itu apa?”
 
(Sok Artis di di Jembatan Pura Balekambang)
Pura ketiga, Pura PUJON,
Gung Tra dan kadek kehilangan jejak di sebuah pertigaan Malang, kami mulai “Kepalingan” belok kiri atau belok kanan tapi untung saudara Gung Tra memiliki insting yang sangat bagus ternyata arah kita lalui benar dan kami bertemu dengan tim lain yang sudah menunggu di pinggir jalan. Ketika mulai memasuki kawasan Pura Pujon nasib sial menempa,  yaitu puranya sudah tutup dan sudah dikunci, tanpa berpikir panjang kami langsung balik mengingat kondisi sudah malam dan kami berlima berencana kembali ke pura besok pagi. Kemudian kita menuju ke songgoriti untuk mencari vila. Alhasil kita belum bisa memastikan dapat vila mengingat calon peserta tirta yatra belum jelas kita belum bisa menentukan berapa kamar yang harus dipesan, kita hanya bisa mendapatkan nomor kontak calo vila, dan juga mengetahui kisaran harga vila yang luar biasa melonjak akibat adanya rahinan natal. Kondisi dilapangan semakin malam dan semakin dingin kita memutuskan untuk kembali ke asga dan melanjutkan perjalanan besok pagi.
            Sebelum menuju Asga kami mampir diwarung makan yang sangat sadis porsinya, satu porsi nasi Cuma dua suapan saja sudah habis dan harganya mahal, semua dari kita hanya bisa misuh-misuh saja. Perjalanan dilanjutkan dengan membeli terang bulan dan martabak yang akan diberikan kepada warga Asga..
Saat melakuakn brifing ada kabar baik dari pupram ternyata juru kunci pura pujon adalah teman ayahnya pupram, dengan demikian masalah pura pujon akan bisa kita atasi.
            PURA PUJON season 2,
 Selama 30 menit perjalanan kita telah sampai dipintu masuk menuju pura pujon kemudian kita dihampiri oleh juru kuncen Pura Pujon yang bernama Bli Candra, beliau menggiring kita menuju rumahnya untuk membicarakan tirtayatra seperti masalah jero mangku, masalah masuk pura dan masalah konsumsi. Tuhan memang memberikan jalan terbaik kepada tim, masalah Pura Pujon bisa kita atasi dan beliau bersedia mencarikan vila buat kita. Selajutnya kita menuju pura untuk  melihat kondisi dan situasi, tetapi kita tidak bisa masuk ke dalam pura karena sedang ada kegiatan, kemudian kita menyelinap masuk ke objek wisata air terjun cuban rondo. Sampai disana kita membeli gorengan dan berfoto ria dibawah air terjun. Setelah dirasa puas menikmati panorama cuban rondo kita pamit pulang dengan Bli Candra langsung balik ke surabaya.
BACK TO SURABAYA ,
Bakso Geblog adalah tempat makan terakhir kami sebelum balik ke Surabaya. Gerimis mengundang dan hujan lebat adalah suasana penghias perjalanan kami. Ketika memasuki kawasan macet karena  banjir, crew kita mulai terpisah ada yang duluan dan ada yang tertinggal. Walaupun kita mengalami perpisahan dan kehujanan dari malang sampai Surabaya akhirnya kita bisa berkumpul kembali di Astaga dengan kondisi selamat dan sehat walafiat. Saat mendarat di astaga kita disambut oleh Bli Evan, dia membawakan kita dua botol mizone, satu bungkus roti, snack, dan energen untuk menghangatkan badan yang kedinginan setelah kehujanan selama dua jam. Acara selanjutnya nonton bareng indonesia melawan fhilipina, di sela-sela istirahat pertandingan kita melakukan rapat kecil dan laporan tim survey kepada pengurus
            SPECIAL THANK FOR, Ida Shang Hyang Widhi Wasa yang telah memberi jalan terbaik Gung Pram yang telah menyediakan kamar dan kasur kepada kami, warga Asga yang telah meminjamkan kita kamar mandi dan wc, Jero Mangku Juarno yang telah memberikan informasi mengenai mekanisme sembahyang di Pura Balekambang, ketua PHDI kabupaten malang yang telah memberikan banyak informasi Pura di Malang, Bli Candra yang telah membantu kita untuk mengatasi masalah Pura Pujon, masalah konsumsi dan masalah vila, pada kawan-kawan yang mendoakan  kami, pada kekasih-kekasih kami yang selalu mengkhawatirkan kami,dan kepada tim mapping yang selalu semangat.
Cerita ini bukan hanya fiktif belaka jika ada kesamaan tempat nama dan cerita memang disengaja, tolong dibaca ya biar gak rugi nyatua. (kDk bEdUd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar